Sem

quotescover-JPG-40

Kolam lele dengan segala aroma harumnya, tidak akan saya lupa. Sebagai penikmat lele dan seorang mahasiswa biologi, saya doyan dengan olahan keluarga Clariidae ini. Digoreng kering dengan cita rasa gurih tak terbilang, apalagi kalau dicocol dengan sambal terasi (tanpa micin), dengan sesendok nasi. Lumeran daging tersebut di mulut sungguh terlalu.


Kebetulan seorang teman dekat memiliki tempat dan ingin beternak lele. Waktu itu ternak lele di kolam terpal sedang booming. Saya menyatakan siap untuk membantu. Bagi hasil nantinya. Saya yang membeli pakan. Sebagai informasi pakan adalah komponen biaya produksi terbesar ketika kita melakukan budi daya perikanan. Nggak jauh beda dengan usaha peternakan. Secara berkala ketika akan beli pakan sekarung dua karung. Saya menyerahkan uang kontan. Pemberian pakan dan perawatan menjadi tanggung jawab Agus.

Singkat cerita. Ternak lele tersebut berjalan dengan baik. Namun setelah panen selesai. Percobaan pertama saya belum untung. Hasil panen tidak seperti dugaan kami. Modal saya tergerus. Mungkin saja kami belum berpengalaman mengelola kolam lele. Setelah pengalaman ini, ketika ada adik kelas yang ingin mengajak rame-rame ternak lele, saya tidak terlalu antusias karena kenyataannya di lapangan tidak semudah teori di buku “Kiat Sukses Beternak Lele Sangkuriang” penerbit Swadaya 🙂 .

***

Kemarin malam karena ada ads  Pak Rhenald Kasali di Metro, lantas saya menyetel tv, menyimak acara tersebut hingga jam 10 malam (WIT). Ada obrolan para mentor dan host bersama pendiri kitabisa.com Alfatih Timur, setelah selesai news break, ada satu lagi pemuda dengan usaha disruptif di sektor peternakan.

Penasaran kan jadinya. Sembari menonton Big Circle, saya mengklik peramban segera mencari alamat web Vestifarm. Tidak puas, saya mencoba mencari history jejaring sosialnya. Instagram mereka yang aktif.

Bersama para mentor, Andy Noya dan Prof Rhenald sedang membahas soal “disruption”. Kitabisa & Vestifarm milik dua anak muda keren adalah contohnya. Dua perusahaan rintisan di sektor teknologi keuangan (fintech) yang sedang naik daun. Kekinian kata generasi langgas. Menurut Bank Indonesia (BI), fintech merupakan fenomena perpaduan antara teknologi dengan fitur keuangan yang mengubah model bisnis dan memangkas hambatan untuk mengaksesnya (barrier to entry). Dengan menjamurnya fintech di Indonesia, tentunya BI maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turun tangan agar membuat aturan main agar melindungi konsumen sekaligus payung hukum pelaku usaha fintech. *

Di acara tersebut Vestifarm yang meraih The Best UKM App di NextDev 2016, memudahkan para investor untuk terjun ke dunia penggemukan sapi. Hal ini masih terbuka luas kesempatannya. Indonesia memang masih lebih menyukai daging sapi segar untuk kebutuhan dapur. Berbeda dengan orang-orang di luar negeri yang sudah puas dengan daging beku di pasaran. *

Dibedakan berdasarkan jenis inovasinya, Financial Stability Board (FSB) badan internasional pemantau dan pemberi rekomendasi kebijakan mengenai sistem keuangan global, membagi fintech kedalam empat kategori. Vestifarm sendiri termasuk dalam fintech kategori pertama, yaitu layanan keuangan yang memanfaatkan teknologi digital untuk mempertemukan pihak yang membutuhkan pinjaman dan pihak yang bersedia memberikan pinjaman. Lingkup kerjanya meliputi tabungan, kredit/pinjaman, dan pencarian modal. Contoh fintech jenis ini di Indonesia misalnya Investree, Eragano, Sikumis, kitabisa.com, Pinjam, Uangteman, Modalku, dan Lenddo.

Dari yang saya baca. Potensi industri fintech di Indonesia masih terhitung besar. Ada 49 juta UKM yang tidak terjangkau bank tradisional. Tahun 2016, realisasi pembiayaan P2P lending masih dibawah Rp 150 miliar. Meski kalau dilihat baik-baik, fintech di sektor pembayaran masih mendominasi pelaku fintech di Indonesia, sebesar 44%. Sedangkan crowfounding baru mencapai 8%.

stock-photo-disruption-word-cloud-concept-502404682

Steven, kenapa  Vestifarm dikatakan “disruptif”?

Sebab startup ini memungkinkan banyak orang di Indonesia untuk bisa terjun di dunia penggemukan sapi. Dengan biaya modal relatif terjangkau, keuntungan finansial tersebut bukan lagi sekadar dinikmati orang-orang dengan modal jumbo. Satu ekor sapi akan didanai oleh enam orang pemodal. Setelah sapi digemukkan dan dijual. Profit hasil penjualan akan dibagi 50:50 antara pemodal dan Vestifarm. 50% tersebut lantas dibagi kepada enam slot milik pemodal tersebut. Kurang lebih sistemnya seperti yang saya jelaskan diatas. Relatif mudah dipahami, bukan?

Satu hal yang baru saya lihat lebih jelas. Vestifarm meski teman-teman lihat atau dengar menawarkan imbal hasil lebih tinggi dari produk keuangan lainnya. Vestifarm tidak menawarkan imbal hasil tetap (fixed return). Karena sistemnya profit penjualan dibagi enam, tadi. Satu hal lain yang masih mengganjal adalah soal kepastian aturan main. Seperti yang dikatakan Dharma kemarin, perusahaan ini masih berdiskusi soal payung hukum & regulasi dengan pihak OJK. Tentu saja karena startup ini baru berjalan. Semoga ada perkembangan berarti ke depan.

Vestifarm adalah sebuah platform yang bisa kamu gunakan untuk berinvestasi di bidang peternakan sapi dengan sistem patungan. Setiap investor yang bergabung dengan Vestifarm bisa mendapat keuntungan sebesar 30 persen dalam waktu kurang lebih 3,5 bulan. **

Kembali ke pertanyaan awal. Mengapa saya berinvestasi di Vestifarm?
Kemain malam. Saya langsung daftar dan segera menuntaskan pembayaran 1 slot investasi.

Pertama, saya tidak ingin ketinggalan batch periode April. Semakin cepat semakin baik bukan?

Kedua, bisnis model seperti ini setidaknya pernah saya alami, dan sektor penggemukan sapi di Indonesia boleh dibilang punya potensi besar. Daging sapi setiap hari dicari pembeli di pasar.

Ketiga, Vestifarm memiliki CEO yang dapat dipercaya. Dharma Anjarrahman, 23 tahun, Social Entrepreneur ini memiliki rekam jejak yang menurut saya cukup baik. Belajar di Rumah Perubahan, senang baca buku, dan terakhir membawa usaha ini ke lomba startup. ***

https://www.instagram.com/p/BOZ9i9kgV4bYJUOkcNIA35lHBBaP_cQXB1cHsM0/?taken-by=dharmanjarrahman

Keempat, kapan lagi punya semacam Harvest Moon di dunia nyata. OK. Ini alasan yang kurang bagus. Kesannya kayak main-main. Tapi bagi saya pribadi ini sesuatu yang kereeen. Saya bukan sekadar mencari tambahan aset, namun senangnya akan punya sapi yang digemukkan dan nanti di setiap minggu ada info baru si sapi dari Vestifarm. Itu rasanya lebih menyenangkan. Berharap perkembangan si sapi akan berjalan dengan baik. Di bulan Agustus nanti, di akhir batch ini perjalanan tersebut akan berlangsung.

Bila saya ditanya di jalan, atau kebetulan kita bertemu di tempat makan, misalnya. Dan saya ditanya hal yang sama. Jawaban simpel yang akan saya ucapakan seperti ini: ini adalah kesempatan untuk berinvestasi pada orang (yang saya anggap tepat) dan perusahaan di sektor usaha yang saya pahami (prinsipnya). Happy investing.

* Kontan Edisi Khusus April 2017 “Mengenal Fintech Lebih Akrab”.
** https://id.techinasia.com/20-startup-finalis-kompetisi-the-nextdev-2016-telkomsel
*** https://dharmanjarrahman.tumblr.com/post/138665695756/belajar-dari-rhenald-kasali-tentang-proses

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mempromosikan satu atau lebih fintech di Indonesia. Tulisan ini hanya sebagai cerita personal yang saya bagi di blog pribadi. Keputusan investasi mutlak berdasarkan keputusan dan inisiatif Anda sendiri.

Advertisements