success-1909823_1280-cpixabay

* Setiap orang memiliki hasrat untuk berhasil.
* Apakah uang adalah penentu utama kesuksesan?
Selayaknya awal tahun, kita biasanya punya banyak goal, impian. Terus apa yang teman-teman lakukan buat meraih goal tersebut? Buat “Scale SMART” goal, misalnya. Selain itu ikut training, mencari buku-buku yang mendukung, atau share goal kamu ke circle pertemanan dan akhirnya join dengan mereka yang punya misi yang sama. Setelah tahu apa tujuan yang jelas. Start something that matters. Kamu akan berusaha agar bisa berhasil. Sukses. Tapi sebenarnya apa sih, yang menjadi faktor penentu sebuah keberhasilan? Mungkin kita pernah, bahkan sering banget malah mendengar seruan ini, “yang penting ada duitnya dulu, gan”, atau yang begini, “modal awal yang utama dalam bisnis/usaha kudu punya duit, bro”.

Nah, kurang lebih omongan banyak pihak bisa dirangkum dengan kalimat “uang adalah kunci keberhasilan”, atau ini “uang itu segalanya buat kesuksesan”. Apakah itu benar demikian? Yuk, mari ikuti tulisan ini hingga selesai. Kita akan sama-sama melihat, what works in life. Kurang lebih apa sih yang benar-benar terjadi ?

chelsea-2004

Meraih impian lamanya untuk meraih liga Inggris. Predikat ini diraih, boleh dibilang dibeli dengan harga sangat mahal. Sesampainya Roman Abramovich datang ke Stamford Bridge, doi langsung memberikan suntikan amunisi yang bikin klub lawan ketar-ketir. Bahkan hingga menunggu sekian tahun akhirnya piala kuping lebar atau gelar Liga Champion berhasil dibawa pulang ke London. Orang banyak akan berani sesumbar kalau memang uang itu kunci kesuksesan. Nggak butuh waktu lama, uang mampu membeli pemain-pemain matang dan pelatih sukses untuk meraih trofi. 4 gelar juara EPL dalam 13 tahun terakhir berhasil diraih The Blues Chelsea.

***

Kisah Jerman

Prestasi semenjana di kejuaraan internasional. Modal mental bak gladiator di lapangan tentu tidak cukup untuk membawa pulang gelar tim terkuat sejagad. Merombak sistem pembinaan usia dini dan menghadirkan sistem baru dalam tatanan sepakbola Jerman. Raphael Honigstein, pundit ESPN FC dalam “Daas Reboot” mencoba menarasikan bagaimana Tim Panser berjuang mengembalikan kedigdayaan mereka di kancah dunia.

Tim Jerman akhirnya berhasil meraih juara Piala Dunia 2014. Cukup beruntung meraih gelar runner-up dalam Euro 2016. Tim sepakbola Jerman berhasil menghadirkan rasa segan bagi para lawan. Meski ditinggal sang pionir Klinsmann, “Jogi” Low tetap berada dalam jalur tepat untuk membawa Nationalmannschaft bersaing meraih gelar di setiap kompetisi yang ada.

Ditulis dengan gaya yang menarik, “Daas Reboot” seperti mendongengkan kisah sukses Der Panzer. Sebelumnya Jerman hanya dikenal sebagai tim petarung. Hingga tiap kekalahan di medio 2000-an makin menebalkan kekecewaan dan rasa putus asa publik akan tim kesayangan mereka. Bersama pihak klub, DFB akhirnya merevolusi sistem pelatihan mereka. Berfokus pada masing-masing pembinaan kelompok umur, dengan suntikan dana dan infrastruktur yang lengkap (dalam hal ini pelatih yang berkualitas lebih ditekankan) hingga ke pelosok-pelosok nan jauh.

Mario Goetze yang berhasil mencetak gol pamungkas kemenangan Jerman di Piala Dunia 2014 adalah bukti sistem ini bernilai positif bagi perkembangan generasi pesepakbola Jerman. Mengayunkan kaki saat menerima umpan lambung di sisi pertahanan lawan, inilah gerak refleks yang sudah menyatu dalam latihan, berulang kali dipraktekan saat simulasi, sejak di akademi hingga di level klub. Jadi apa yang menjadi kunci keberhasilan timnas Jerman.

Bila ditilik dari rencana awal mereformasi sistem pembinaan di Jerman. Uang adalah faktor utama sukses besar talenta baru yang lahir. Di samping pembaruan latihan yang dibarengi dengan pendekatan sport science. Namun yang perlu diperhatikan adalah kesamaan visi, yang diraih dengan perjuangan yang tidak mudah untuk mewujudkannya. Berani “Change to lose“. Jutaan euro diguyur untuk perombakan sistem akademi.

Mindset seperti itu belum ada dalam benak petinggi klub kala revolusi tersebut dimulai. Sekarang mereka boleh berbangga hati melihat banyak pemain yang bertebaran di klub elit eropa. Pemain-pemain dengan teknik dan semangat yang tinggi. Menjadi tumpuan di tim masing-masing.

***

Kiprah Golden State Warriors.

Golden State Warriors v Charlotte Hornets

Untuk melihat kasus lain. Mari kita beralih sejenak ke tim basket paling naik daun saat ini. GSW atau Golden State Warriors. Mereka memiliki sejarah yang kurang bagus bila dibandingkan dengan Miami Heat, Dallas Mavericks, atau bahkan LA Lakers, misalnya. Namun dua-tiga tahun terakhir, GSW boleh dibilang mendominasi gim NBA. Siapa tim yang kamu tunggu-tunggu untuk ditonton?

Visi Joe Lacob dan rekan yang membeli GSW tahun 2010 memberi banyak perubahan. GSW membentuk manajemen baru yang berfokus pada perkembangan jangka panjang. Mereka merekrut banyak orang di area teknik yang menjadi pondasi tim, menggandeng SportVU, sebelum akhirnya berhasil mendapat bintang-bintang muda yang berhasil dipoles sedemikian rupa. Memformulasikan strategi jitu untuk menang sekaligus membuat pondasi kekuatan tim. Hingga akhirnya gelar juara menjadi sasaran yang pantas ketika tim ini berhasil memenangi pertarungan sengit di babak Play-off.

Golden State Warriors v Charlotte Hornets

Bersama Splash Brother, Stephen Curry & Klay Thompson. Efisiensi dalam bertahan serta kemampuan Kerr memaksimalkan sistem bermain yang diperagakan bakat-bakat muda miliknya, berhasil mengantarkan GSW meraih gelar NBA di tahun 2015. Pertama kalinya dalam 40 tahun, GSW memboyong gelar NBA setelah menaklukan Cleveland Cavaliers, 17 Juni 2015. Salah satu kepindahan yang menghebohkan musim ini. Kevin Durrant, bintang OKC  memilih menyeberang ke tim besutan Steve Kerr. Demi jaminan cincin juara NBA.

***

Uang adalah kunci kesuksesan. Di satu sisi memang seperti itulah realitanya di dalam kehidupan. Namun uang saja rasanya belum cukup untuk menjadi kunci atau formula dalam keberhasilan. Dalam keringat serta perjuangan meraih sebuah keberhasilan, di sana ada kerja keras, persistensi, dan visi.

tools-bisnis-c-pixabay

Visi inilah yang memberikan semacam daya dorong yang luar biasa untuk sebuah perjalanan meraih keberhasilan. Ditolak waktu pitching ide bisnis itu bukan sesuatu yang buruk, namun bagaimana hingga suatu saat ada kesempatan pertemuan dengan sang investor dapat berhasil, persistensi ada di baliknya.

Namun bila sudah sedemikian banyak ide kita dicap gagal, bahkan mentok dan seolah awan gelap merundungi dunia kita. Di satu titik perjalanan. Mungkin saja semua tool sudah kita keluarkan. Namun tetap mentok juga. Bisa jadi di kala penolakan itu terus berulang, kita akan keluar. Adalah sebuah visi yang jelas, bahkan di putaran terakhir sekalipun, mampu menjadi kunci membuka kesempatan.

Visi yang jelas akan membuat kita tetap percaya akan ide bisnis yang kita miliki, pasti membuahkan sesuatu.

Ijinkan saya memberikan contoh kasus terakhir. William Tanuwijaya. Bukan lulusan luar iya. Ditolak saat menawarkan ide bisnisnya. Marketplace yang Indonesia banget. Waktu itu juga belum ada role model yang membuat bisnis online seperti dianggap sebelah mata banyak pihak. Persistensi memainkan perannya dalam hal ini. Namun jelas sekali William menyebut visi yang terus hidup dalam dirinya, yakin bahwa internet mampu mengubah hidup banyak orang. Itulah yang saya kira adalah salah satu keberhasilan Tokopedia meraih pendanaan dari pihak luar dan terus berupaya menjadi e-commerce yang memimpin di pasarnya.

entrepreneur-696976_1920-cpixabay

Visi sang CEO yang terus mendorong tim Tokopedia terus melayani penjual dan pembeli di ranah daring, meski belum ada perkembangan positif dari berbagai pihak pendukung. Layanan perbankan. Perusahaan logistik. Ini semua dia ceritakan waktu melawat ke San Fransisco, 2015 silam. Videonya bisa kamu tonton di Youtube.

Kegigihan dan visi yang terus membuat Tokopedia berlari meninggalkan pemain-pemain lainnya adalah modal utama Tokopedia sendiri. Dalam “The Everything Store”, Brad Stone yang menarasikan perjalanan raksasa Amazon.com, sempat menulis situasi yang sama dengan kondisi Tokopedia saat ini. Terus berlari untuk memimpin persaingan merebut pangsa pasar e-commerce Indonesia.

Konteksnya saat itu Amazon masih early running. Bezos terus mengungkapkan goal miliknya, yaitu Get Big Fast.

“Bezos berbicara tentang keterdesakan: perusahaan yang terdepan akan cenderung mempertahankan kedudukannya, dan selanjutnya dapat menggunakan keunggulannya itu untuk membangun pelayanan yang istimewa kepada pelanggan.”

Saya yakin William telah memahami kondisi yang disebut Bezos barusan. Dirinya mengaku senang membaca. Kisah perjalanan para pionir bisnis daring yang sebagian besar berasal dari US pasti sudah dilahapnya.

Menutup artikel ini, ada sebuah refleksi menarik bagi kita semua. Apakah kita sudah memiliki visi untuk dijalani. Kalau iya, apakah visi itu sudah kamu tekuni hari-hari ini? Adakah kamu terus menghidupkan visi tersebut? Kalau belum, saatnya merengkuh visi jangka panjangnmu, dimulai dari apa yang kamu miliki hari ini. Mulai sekarang. Terakhir. Saya ingin menuliskan kembali petuah orang bijak, “Where there is a vision, there is provision.

Ambon, 20 Februari, 2017.

Ditulis oleh Steven Sitongan. Bloger buku tetap di Haremi Book Corner. 1/2 Tsundoku. Sedang merintis usaha toko buku daring di Ambon.

Advertisements