Seorang anak kecil berjalan beriringan dengan laki-laki tegap bercelana pendek setrip, berkemeja cerah layaknya Ambon siang itu. Melangkahkan kaki di sepanjang trotoar AY Patty yang begitu ramai. Keduanya pergi berbelanja kebutuhan, dan tidak lupa sedikit mainan hiburan untuk sang cucu. Saat itu kota ini begitu bersahaja sebelum digemparkan oleh sengitnya adu domba antar warga. Si bocah kecil tidak butuh lama untuk segera beranjak ke lantai paling atas. Sembari meneropong kotak kecil ke cahaya mega. Gambar yang mengesankan pikirnya sembari beberapa saat terhanyut dalam imajinasi. Monyet besar berbulu merah kecokelatan. Kotak mungil itu mainan baru baginya. Ketika tamagochi kuning miliknya rusak saat mencoba bermain-seberapa tahan benda mungil ini- dengan air. Disangkanya peliharaan analog itu seperti jam G-Shock milik tetangga yang anti air. Ternyata tampilan yang didapat secara acak itu adalah salah satu ikon dari film fenomenal Star Wars yang kelak kembali ia tonton saat beranjak dewasa.

Di lain waktu dirinya bersama sang istri memompa semangat si anak kecil untuk mencoba cocolan sambal. Kamu belum jadi anak pemberani kalau belum makan dengan sambal kira-kira begitu ajakannya. Sang anak kecil kemudian mencoba melahap makanannya dengan sedikit sambal. Sudah lama si anak kecil lebih suka makan dengan sedikit rasa dari saus tomat. Tapi dorongan itu membuat dirinya terpacu mencoba sambal. Apalagi sambal dari Makassar yang lebih pedas dari saos botolan. Si Anak kecil kemudian ditinggalkan laki-laki dan istrinya selepas ibunda bersalin. Setiap hari pulang pergi dari hotel Hero ke rumah, kemudian di suatu pagi mereka berdua berangkat pagi-pagi benar dengan mobil Damri ke bandara adalah secuil ingatan si anak kecil.

***

Beberapa waktu setelah kerusuhan pecah. Si anak kecil akhirnya berlabuh di rumah sang kakek. Setelah berulang kali pindah sekolah. Di kota pahlawan. Dirinya akan siap tinggal cukup lama untuk menamatkan sekolah dasar. Salah satu kesenangan kecil miliknya adalah ketika ke gereja bersama. Sepulang dari ibadah si anak kecil akan merajuk dibelikan beberapa potong cemilan manis. Sembari menunggu taxi pulang. Potongan leker yang dijajakan mas-mas di samping gereja itu dimakan dengan hari riang. Enak dan murah pikirnya.

Tentu saja si Anak kecil senang menjelajah di dalam rumah. Beberapa kali dirinya menyelonong di gudang dan memeriksa ini itu. Dan astaga, tidak satu dua kali dia mengambil satu dua lembar uang ribuan dari sebuah tas kecil, milik si laki-laki itu. Demi berbelanja dan entah apa yang dibelinya.

Laki-laki yang tentu saja merupakan kakek kesayangan si anak kecil itu kemudian berlanggan surat kabar. Dari kebaikan hati sang kakek yang kebetulan suka membaca koran pula, harian Surya menjadi koran pagi yang selalu ditunggu-tunggu. Entah kenapa bukan Jawa Pos atau koran lainnya yang dibaca. Mungkin karena ada selipan kolom berbahasa mandarin, pikir sang anak kecil.

Duduk di kursi kayu kesayangannya di pojokan rumah, sang kakek sedang asyik melahap potongan gabin. Biskuit dengan taburan gula di atasnya. Sembari sesekali mencelupnya di air hangat. Lebih nikmat katanya. Hmm, apa enaknya sih pikir si anak kecil. Bukannya lebih pas kalau biasa-biasa saja.

Surat kabar Surya menjadi saat-saat menyenangkan bagi si anak kecil. Sepulang sekolah. Sambil mendinginkan diri dari siang yang terik. Dia tenggelam dalam kalimat-kalimat yang ditulis para wartawan. Tidak sedikit dirinya tersenyum-senyum saat mencoba memahami kolom walikan khas ngalam.

Suatu siang dirinya mendengar cerita dari sang kakek. Saya dulu kerja sama orang. Kerjanya lumayan berat. Siangnya pasti makan coto dengan sambal yang banyak, kira-kira begitu. Makin pedas makin nikmat. Sembari menahan terbakarnya lidah dan tenggorokan, paling enak disambung minum palu basa. Itu menu favorit saat berkerja katanya. Di kemudian hari kegemarannya ini membuat lambungnya bermasalah. Sampai harus makan bubur yang ditapis. Ngeri juga pikir si anak kecil.

Senyumnya dan tawanya selalu memberikan kebahagiaan bagi si anak kecil. Meski ada juga waktu si kakek menjadi sedikit marah akibat ulahnya. Si anak kecil selalu mendapat asupan buah-buahan hampir tiap hari. Blewah hingga jeruk adalah favoritnya. Si kakek amat rajin berjalan kaki ke pasar. Menggotong bawaannya atau pulang dengan becak langganan menjadi keseharian si kakek.

Anak kecil di dalam cerita diatas adalah saya sendiri. Malam ini sebelum tidur. Mendedikasikan tulisan ini. Saya sedang menulis pengalaman apa saja yang berkaitan dengan kakek saya. Kong, -sebutan saya- dini hari tadi berpulang di usia 86 tahun. What a long journey. Senyumnya dan tawanya selalu memberikan kebahagiaan bagi saya. Si anak kecil yang berdiam di rumahnya. Mengabiskan waktu sd kelas lima hingga smp kelas satu bersamanya. Beberapa nilai yang saya dapati dari diri beliau adalah kerja keras dan ketekunan. Seorang kakek yang baik hati dan selalu akan dikenang anak cucunya.

Selamat jalan kong.

Advertisements