Minggu ini adalah minggu yang berkesan.

Pertama kesempatan untuk masuk di koran Kompas. Pas ikut seminar nulis di FH UGM saya sadar banyak mahasiswa UGM yang cita-citanya masuk Kompas. Tepatnya bisa mendapat tempat di halaman paling prestis koran nasional yang baru saja memasuki 50 tahun, rubrik Opini.

Pas 2013 kalau tidak salah, saat itu ada beberapa tips untuk penulis baru (dalam artian first timer dalam masuk Kompas). Dan menurut sepenglihatan saya membaca Kompas hingga saat ini, belum ada mahasiswa yang gol di rubrik ini cmiiw. Singkat cerita saya terinspirasi oleh promosi Kompasiana yang dilakukan Kang Pepih di “Kompasiana Etalase Warga Biasa”. Sebenarnya bisa saja Kompasiana ngiklan di Kompas. Tapi rate cardnya pasti lumayan untuk harian sebesar Kompas. Maka hal yang praktis untuk dilakukan adalah Kang Pepih menuliskan keberhasilan Kompasiana sekaligus mengulik soal jurnalisme warga, Kebetulan di Kompas Klasika ada rubrik Intermesso.

Ya, saya selalu tidak ketinggalan membaca bagian ini. Ada referensi film, musik, dan buku. Disini ternyata dibuka kesempatan untuk kita bisa merekomendasikan baik buku, film, buku dengan mengisi form yang ada. Linknya bisa dibuka di @KompasKlasika dan wajib menyertakan review singkat sebanyak 300 karakter. Bayanginnya persis kayak iklan baris 🙂 nah disitu kita harus sedikit berputar otak untuk dapetin intisari review buku yang kita inginkan tampil di Klasika. Akhirnya dengan modal nekat, hari Kamis kemarin review buku Believe it Or Not: Dunia Penerbangan Indonesia nampang di Klasika. Surprisenya hal itu baru saya ketahui Jumat pagi saat melihat Kompas Kamis. Ayo! ada kesempatan masuk Kompas meskipun hanya di bagian paling belakang. Rubrik yang mungkin saja jarang dibaca oleh orang yang sibuk.

20150807_121717masuk kompas 7 Ag 15

Dan sebenarnya hari kamis kemarin, saya diberi tahu oleh pengantar koran Ambon Ekspress (Ameks) bahwa ada nama saya yang “lolos” di lomba penulisan artikel. Saya pikir mungkin saja menang tapi peringkat harapan. Di koran hari Kamis terdapat satu artikel yang berisi cerita di balik layar dari lomba menulis yang menjadi program “unggulan” Gerakan Maluku Gemar Membaca. Satu hal yang terang terbaca adalah semangat masyarakat luas dalam lomba menulis ini. Saya salut dan angkat topi kepada orang-orang yang begitu berusaha untuk tulisannya dikirim ke redaksi Ameks. Disitu diceritakan ada yang tulisannya difoto dan dikirim ke seorang saudara di Ambon untuk diketik. Pokoknya ada perjuangan banyak orang untuk berpartisipasi di lomba ini. Keterbatasan komunikasi akibat minimnya sarana internet tidak menjadi masalah berarti. Semangat ini tentu saja sebuah hal yangg amat baik. Masyarakat Maluku setidaknya terbukti memiliki banyak sekali gagasan yang ingin dibagikan kepada khalayak ramai dan sekali lagi semangat tersebut tidak boleh padam. Satu hal yang menggembirakan adalah artikel para penulis yang telah dinilai juri akan dijadikan buku. Buku tersebut katanya akan dicetak dan dibagikan untuk sekolah-sekolah. Kedengarannya menarik bukan? Hal inilah yang paling menyenangkan untuk saya di minggu ini. Salah satu mimpi saya adalah membuat buku di tahun ini. Semuanya terwujud karena hikmat yang diberikan oleh Tuhan Yesus saat saya mulai menulis artikel tersebut. All by His Grace.

20150808_093116

Tidak lupa juga saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Giner dan teman-teman yang masih bersekolah di Maluku, Kalianlah yang sebenarnya menjadi pemenang. Tidak akan ada artikel “Sains Masa Depan Maluku” jika tidak ada kontak dan inspirasi dari teman-teman semua. Selain itu saya juga menghaturkan penghargaan sebesar-besarnya kepada Pak Gerson Lisapaly, beliaulah yang membuka jalan agar saya bisa meminjam buku di Perpustakaan Nasional Maluku. It means a lot Pak’.

Akhir kata semoga gerakan membaca di Maluku dapat terwujud dengan baik di kalangan pendidikan. Distribusi dan akses perbukuan di Maluku dapat lebih ditingkatkan. Penanaman Budi Pekerti yang mewajibkan siswa membaca akan sangat baik. Kebiasaan tersebut yang menjadi salah satu penyebab kesuksesan CEO Amazon. Kisah suksesnya bisa Anda baca di The Everything Store. Sudah diterjemahkan. Namun amat disayangkan, apabila setengah jam yang diluangkan (15 menit mencari buku & baca di kelas) tidak berarti apa-apa bila seng ada buku’ dan seng ada teladan guru yang membaca di kelas. Sebelum menutup artikel ini Anda dapat membaca 15 Menit Membaca Buku dan Program Penumbuhan Budi Pekerti. Artikel menarik yang ditulis oleh Hestia. Karena benar-benar masa depan kita berada di pundak generasi yang akan datang.

Advertisements