Siang itu saya dikejutkan oleh sahabat seperjuangan saat Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2004 Pekanbaru, Giner Maslebu. Dia mengirimkan sebuah pesan yang intinya mengungkapkan pemikirannya untuk urun rembuk pola pembinaan yang baik untuk peserta OSN. Saya menangkap dengan kuat kerinduan hatinya untuk anak-anak Maluku bisa bersaing dan mendapat medali di ajang adu otak ini. Sejujurnya saya belum pernah memikirkan perkara tersebut. Sejauh ini secara tidak sadar saya kuliah dengan para juara OSN cabang Biologi (baik tingkat SMP dan SMA). Mereka sangat rendah hati dan banyak yang kembali berprestasi kala mengikuti Olimpiade Sains tingkat Mahasiswa (diselenggarakan oleh Pertamina).

osn

Sebelum melanjutkan tulisan ini, ijinkan saya sedikit mengingat masa-masa dimana saya mendapat kepercayaan untuk berangkat mewakili Maluku di OSN 2004. Di masa itu untuk pertama kalinya saya bisa earn money. Betul, sebenarnya tidak seberapa uang prestasi yang diberikan oleh penyelenggara. Namun ada hal yang tidak terkira nilainya yang saya dapati yaitu pengalaman. Di masa itu sampai SMA saya belajar soal bersaing dengan sportif dan bagaimana dapat berkompetisi secara sehat. Bisa dikatakan saya beruntung di masa SMP saya yang berasal dari Ambon dapat terbang ke Pekanbaru dan bertemu banyak orang-orang hebat. Satu hal yang pasti kala itu lewat acara ini Ibu saya bisa berhadapan dengan Bu Mega (Presiden kala itu) dalam jarak kurang dari lima meter (foto sang Ibu berjalan menjadi kenangan tak terlupakan).

Sembari membalas pesan sahabat saya yang mengikuti OSN Pekanbaru lewat cabang Fisika, saya mencoba merenungkan apa “resep ajaib” untuk adik-adik di Maluku. Sejenak saya mendapatkan jawabannya. Rahasianya adalah pembinaan yang tepat. Sekolah-sekolah memiliki siswa yang berpotensi dalam bidang sains. Setiap siswa diarahkan lewat program Olimpiade Sains sesuai minat masing-masing. Bekal dari kompetisi setiap tahun sangat terasa dan memunculkan semangat untuk berkompetisi. Kakak kelas atau siswa dari SMA yang terkenal dengan jawara OSN akan menjadi inspirasi yang luar biasa. Setiap siswa yang terseleksi (mewakili Provinsi) kemudian diberikan pematerian dan dibimbing oleh pengajar berkelas Universitas ternama. Maka klop sudah persiapan ditambah kesempatan menghasilkan yang namanya sebuah prestasi. Memenangi ajang tingkat nasional akan membuka jalanmu ke pintu masa depan. Tidak perlu meragukannya, beasiswa penuh di Universitas unggulan lokal maupun luar ada di genggaman. Ok, mau tahu siapa langganan juara umum OSN Indonesia? Selain Provinsi Jakarta yang baru 4 kali. Ada Provinsi Jawa Tengah (8 kali). Menurut anda universitas mana yang paling dekat untuk turun tangan membimbing para “gladiator” ini?

Maluku mendapat medali perak di tahun 2006 & medali perunggu di tahun 2013 pada OSN tingkat SMP. Itu sangat membanggakan. Sebelum melanjutkan, saya rasa artikel berikut ini dapat membuka mata setiap kita mengenai pentingnya OSN. Soal pembinaan tidak akan selesai dibahas semalaman. Ada hal yang dapat menjadi harapan bagi kita semua untuk menjawab bagaimana anak-anak bertalenta Maluku dapat menang di ajang OSN. Sebelum berkompetisi dan menjadi juara, kita lebih baik memikirkan bagaimana menghadirkan sains sebagai teman yang menyenangkan bagi si anak. Sudah barang tentu sains menjadi momok menakutkan yang bertambah parah ketika guru tidak dapat menyampaikan materi pembelajaran dengan baik.

Saya menaruh harapan besar untuk program pemerintah yang baru dicanangkan tahun ini. Gerakan Maluku Gemar Membaca. Di kala sekolah-sekolah sudah memberikan porsi lebih untuk kegiatan membaca. Disanalah terbuka sebuah harapan. Perpustakaan dan buku-buku serta fasilitas pendidikan akan menjadi satu paket yang tidak dapat dipungkiri menjadi hal pokok dalam memajukan pendidikan Maluku. Akan sangat baik jika perbendaharaan buku di tiap sekolah diperbaharui. Buku-buku pelajaran khususnya sains ditingkatkan jumlahnya. Maka saya tidak ragu ketika anak didik sudah memiliki sebuah semangat untuk membaca. Banyak hal akan mampu diserapnya dengan baik termasuk bidang sains. Bukankah lingkungan kita sudah begitu merangsang rasa ingin tahu si anak. Laut yang biru, ikan yang beraneka ragam, pepohonan hijau di perbukitan. You name it. Anak sejatinya adalah seorang pembelajar. Masa kecil anak yang ingin tahu banyak hal dapat terpuaskan lewat buku-buku sains yang berkualitas. Sekarang sudah banyak penerbit yang menghadirkan buku sains anak yang baik. Seorang anak yang menyukai sains tidak akan suram masa depannya. Sains bukan hanya soal pengetahuannya saja. Namun juga mampu mengasah yang di dalam anak tersebut. Sebutkan perusahaan mana yang tidak memiliki divisi R&D. Sebutkan negara tetangga kita yang maju tanpa bekal luas wilayah yang besar dan SDA melimpah. Saya kira Indonesia di masa depan akan bertumpu pada orang-orang yang ahli di bidang ini. SDA kita akan dikelola oleh orang-orang yang punya kompetensi di bidang sains. Jika dipupuk dan dibina dengan benar. Bukan tidak mungkin muncul ilmuwan-ilmuwan handal Maluku (dulu Maluku dikenal menyumbangkan tokoh-tokoh nasional yang cerdas dan berkontribusi besar dalam NKRI), dokter, industrialis, inovator, pebisnis, pengarang, bahkan penulis hebat. Jika anda berpikir seorang ilmuwan hanya duduk di lab dan berkutat dengan hitungan percobaan? Berarti anda belum mengetahui aktor di balik film terbaru besutan Nolan bersaudara. Kip Thorne seorang ahli fisika yang mampu menghadirkan sentuhan sains di film Interstellar dengan amat baik. Saya tidak mengajak anda untuk pesimis tentang Maluku. Bisa saja hal hebat diatas terwujud. Impian kita semua kelak bukan sebuah omong kosong. Hal besar tersebut bermula dari seorang anak yang tertarik oleh yang namanya sains. Di waktu dia menemukan sebuah ruangan kecil di sudut sekolahnya berisikan buku-buku berilustrasi planet bumi dan dinosaurus.

Advertisements