Sebenarnya saya sudah gemas untuk bisa menulis sebuah artikel mengenai pendidikan di Maluku. Kesempatan ini saya gunakan di blog bukan di ajang lomba artikel di koran Ambon Ekspress. Hampir setiap hari saya membaca koran lokal ini yang isinya memprihatinkan. Setelah membaca artikel yang masuk di rubrik Gerakan Maluku Gemar Membaca. Hampir semua isi tulisan sudah menjelaskan titik terang seberapa jauh ketertinggalan kita dibandingkan dengan para tetangga kita (bukankah tidak ada konsep luar pulau sebab kita semua tergabung dalam sebuah negara kesatuan). Di salah satu tulisan seorang mahasiswi menjelaskan kenapa perpustakan begitu membosankan dan payah sehingga jarang dimasuki oleh pengunjung. Sudah sepatutnya perpustakaan diisi bukan saja buku teks yang tebal dan berdebu namun beragam buku yang mendidik dan mengisi cakrawala berpikir seorang manusia. Apa daya disini buku tidak lebih penting tinimbang sebuah bongkahan batu. Sebuah batu dibeli dan dikagumi ketimbang menghabiskan uang untuk sebuah investasi penting bagi tumbuh kembang anak.

          Setelah saya merenungi dan memutuskan untuk menulis artikel ini. Kita harus melihat sebuah pangkal permasalahan dari pendidikan Maluku yang katanya tertinggal dibanding provinsi lain. Kita punya SDA kelautan yang luar biasa namun diintip pun tidak oleh para nelayan. Semuanya lari ke negara-negara tetangga. Sudah seharusnya kita punya SDM yang mumpuni jika kekayaan laut dan darat kita dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mengapa sebab kita punya predikat yang kurang mengenakkan diatas? Sebuah pemikiran sederhana. Sebelum kita membangun Maluku untuk menjadi masyarakat yang cerdas. (slogan Maluku Cerdas merupakan misi mulia yang dicetus oleh Hekaleka, salah satu komunitas peduli pendidikan di kota Ambon). Seyogianya terlebih dahulu kita mengubah paradigma berpikir dalam proses tumbuh kembang anak. Pendidikan harus dilihat dengan cara pandang yang benar sebelum kita mengutak-atik kurikulum yang berganti tiap menteri. Meminjam judul buku Bukik Setiawan, anak bukanlah sebuah kertas kosong adalah pondasi pertama yang harus dibangun di dalam sebuah keluarga. Kita sudah terlalu lama berpikir bahwa urusan pendidikan itu sebatas masuk sekolah. Anak tidak bisa disama ratakan dan menutut sebuah pendekatan yang berbeda. Tiap anak unik. Orangtua sering abai dan menganggap anak sudah sepantasnya adalah tanggung jawab penuh pihak pendidik di sekolah. Merupakan tugas utama orangtua untuk mendidik dan mengarahkan anaknya untuk kelak jadi seseorang yang mampu bersaing di dunia modern. Ada baiknya tinimbang pemerintah Provinsi Maluku gembar-gembor membuat acara gemar membaca, mas Bukik diberi kesempatan buat roadshow keliling Maluku mengenalkan panduan mengembangkan bakat anak. Semua senang dan pemerintah tinggal merestui lewat kebijakan di pihak dinas pendidikan untuk mengizinkan pematerian Anak Bukan Kertas Kosong diadakan di masing-masing sekolah.

        Kembali kepada pertanyaan diatas. Sebenarnya anak-anak Maluku merupakan berlian yang jika diberi “tempaan” dan kesempatan akan menjadi bintang-bintang yang mengejutkan. Saya tidak lagi mempersoalkan fasilitas dan infrastruktur yang belum memadai. Seribu halaman pun tidak akan sanggup menyelesaikan pembahasan tersebut. Satu hal yang ingin saya ungkapkan adalah untuk menjadi seorang pribadi yang bertumbuh dengan baik diperlukan faktor-faktor pendukung. Ibaratnya sebuah tanaman diperlukan makromolekul dan mikromolekul yang tepat untuk mendukung optimalnya pertumbuhan. Seorang anak yang diharapkan memiliki kecerdasan yang optimal membutuhkan asupan nutrisi yang baik. Disinilah peran keluarga sangat vital dalam rangka memenuhi kebutuhan anak berupa makanan yang baik untuk pertumbuhan. Nah disini letaknya titik temu yang bisa diamati apabila para stakeholder melihat rakyat dengan seksama. Masih banyak keluarga yang kesulitan untuk memberikan gizi yang terbaik bagi anak-anaknya. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menarik di Jakarta Post. Seorang pakar menyebutkan jika seseorang yang terjebak dalam keadaan kekurangan akan berpengaruh pada kecerdasannya. Dikatakan disitu poin IQ seseorang akan turun beberapa poin akibat kondisi tersebut. Sebuah analisa rumit tidak kita butuhkan disini. Seorang kepala keluarga yang kesulitan untuk mendapat nafkah hidup sehari-hari akan sangat sulit untuk fokus pada tugasnya sebagai kepala keluarga. Maaf, ibaratnya untuk makan saja susah, apalagi memikirkan nasib anaknya yang belum jelas memiliki manfaat bagi dirinya. Inilah sebuah pekerjaan rumah bagi kita semua yang mengaku peduli dengan Maluku. Sampai sejauh mana anak-anak, generasi muda kita berhasil ke depan ditentukan oleh program peningkatan penghasilan keluarga dan perbaikan infrastruktur pendidikan.

          Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan siapapun. Sekali lagi saya hanya ingin mengetuk hati para pembaca untuk setidaknya berpikir mengenai keadaan ini. Tugas kita menurut pendapat saya bisa saja berupa memberikan sebuah pemberdayaan bagi masyarakat untuk dapat mandiri. Hal ini sebenarnya bisa dibuat dan berjalan dengan berkelanjutan jika mental masyarakat sudah diubah terlebih dahulu. Sikap kebanyakan orang yang pasif dan enggan keluar dari zona nyaman untuk berbuat sesuatu harus secara bertahap diubah. Merupakan impian kita semua masyarakat Maluku bisa menjadi seorang yang memiliki mental pengemudi (Good driver). Keinginan untuk berubah dari dalam tatanan masyarakat akan jauh lebih powerfull ketimbang distimulus oleh pihak dari luar. Contohnya seperti sebuah program peternakan yang diberikan pemerintah kepada sebuah kabupaten. Bantuan tersebut bisa saja tidak akan berkelanjutan jika masyarakat di dalamnya tidak memiliki inisiatif dan mental seorang pengemudi. Amat disayangkan jika bantuan tersebut akan berakhir setelah satu periode penggemukan ternak (sekitar 6 bulan-1 tahun). Masyarakat tidak berniat mengelola dan ingin menikmati hasil yang instan (ternak dijual dan mendapat capital). Hal ini akan memiliki dampak yang berbeda apabila masyarakatnya sudah diberikan pemahaman dan cara berpikir mereka berubah dari sebelumnya ingin hasil yang cepat. Apabila perubahan dapat terjadi plus ada motivasi yang tepat sudah ada dalam diri mereka. Dengan arahan dan bantuan yang tepat suatu pemberdayaan akan berjalan positif. Mereka secara sadar melakukan sebuah pekerjaan mulia yang memiliki tujuan kemandirian komunitasnya dan ujungnya dapat mengangkat potensi sebuah daerah. Bila hal ini tercapai niscaya sebuah komunitas peternakan yang dibentuk akan berjalan maju. Bahkan mampu menginspirasi kampung-kampung lain untuk berupaya hal yang sama. (bagi yang ingin lebih mengenal apa itu mental pengemudi dan mental penumpang. Saya merekomendasikan anda untuk membaca Self Driving karya Prof.Rhenald Kasali).

             Pasti di benak anda muncul satu pertanyaan baru. Apakah semiris itu disini? Jangan salah sudah banyak saya temui ibu atau bapak yang mulai memasuki bidang agrobisnis, pengolahan ikan. Selain itu sudah banyak komunitas yang punya niat mulia menggaungkan nama Maluku di kancah nasional sekaligus berkreasi dengan merchandise khas anak muda. Kuncinya adalah sejauh mana kita berkeinginan untuk mengupayakan kegiatan wirausaha mewabah di Maluku. Tentunya hal-hal inilah yang dapat kita upayakan untuk dapat berkembang dan akan lebih baik bila didukung penuh oleh pemerintah.

Advertisements