Setelah post perdana ini mungkin akan ada post lanjutan di blog ini. Iya saya ingin post pertama ini soal penulis. Setelah hampir setahun lebih menulis review di blog buku Haremi Book Corner. Tentu saja saya menjadi sedikit terobsesi dengan… iya betul, penulis. Orang yang menggadaikan waktunya buat sebuah mahakarya berupa tulisan. Boleh jadi sesuatu yang jelek atau bagus, disukai atau dikritik habis-habisan oleh para reviewer (mohon masukkan juga lawan, kawan dekat si penulis, juga peresensi yang baru mulai meresensi seperti saya). Dijadikan top 10 terlaris di toko buku atau menjadi penghuni berdebu yang mengisi rongga di rak buku. Berada di setiap pikiran para pembaca atau hanya menetap di benak penulis dan beberapa pembaca yang kebetulan membaca. Itu semua mungkin sudah terpikirkan matang-matang di benak sang penulis. Saya pernah mendengar pernyataan seperti ini “ketika sebuah karya penulisan telah terbit dan berada di pasaran, maka karya itu sepenuhnya milik khalayak umum bukan lagi pribadi sang penulis semata”. Betul ketika setelah begitu banyak membaca atau mereview, muncul sebuah keinginan untuk menjadi seorang penulis. But somehow ada begitu banyak hal yang sebagai pembaca, kita tidak menyadari bahwa menjadi seorang penulis butuh sebuah proses. Ketika seorang membaca buku dan celakanya buku tersebut jelek setengah mati, menurut pemikiran sempitnya. Apalagi jika orang ini gemar mereview pasti hal pertama yang dilakukan adalah memberi kritik pedas di media sosial (salah satunya Goodreads) dan dimana lagi kalau bukan blog pribadinya. Pernahkah orang ini (mungkin kita juga) berpikir ada sebuah harga yang harus dibayar, untuk membuat sebuah tulisan, kalimat, paragraf singkat, paragraf sebanyak 1 halaman, dan akhirnya berlembar paragraf dan membentuk sebuah kesatuan buku. Tulisan itu pun mengalami proses panjang setelah dibentuk (lebih tepatnya diciptakan) bersama para editor, tukang mendesain calon isi buku, dan orang yang berkepentingan di dalamnya. Sampai menjadi buku dengan sampul mengkilap, huruf judul yang terasa ketika dipegang, ada aroma khas kertas yang bisa dihirup ketika membuka sampul yang masih tersegel erat, dapat dipegang seorang pembaca. Terdapat perjalanan yang tidak mudah (meskipun ada juga buku lain yang dikerjakan serba cepat, dan hasilnya sangat jelas. Biasanya untuk mengikuti momentum pasar atau mungkin proyek bernilai ekonomi tinggi) sehingga karya tersebut bisa dinikmati. Terlepas dari bagus tidaknya, bermakna tidaknya, berkualitas atau tidak.

Seorang penulis bisa melahirkan sebuah karya setelah sebelumnya mendapat inspirasi, ilham, wahyu dari semesta kemudian menuangkannya ke dalam sebuah kertas. Para wordsmith ini pun tidak seperti orang kesurupan kemudian mendapat ilham begitu saja. Maksud saya selain ada creative thinking yang begitu cepat, ada juga proses mendapatkan ilham tersebut. Prosesnya bisa macam-macam. Inilah yang akan saya tanyakan kepada penulis-penulis favorit saya. Semoga mereka bisa sedikit berbagi melengkapi tulisan ini. Satu hal yang saya amati setelah membuka jurnal seorang penulis Indonesia, bukunya mulai tahun ini akan diterbitkan di luar negeri sehingga karya-karyanya bisa dinikmati oleh pembaca luar. Penulis Cantik itu Luka ini pada masa-masa tertentu (hingga saat ini) berbagi banyak kepada pembaca. Disitu setelah kita membaca jurnalnya bisa mengetahui penulis pun untuk bisa menulis harus membaca dan menyerap karya-karya penulis terdahulu. Soal bagaimana sebuah tulisan atau lebih tepatnya cerita di muka bumi, tidak ada yang benar-benar baru. Di ekakurniawan.net dijelaskan dalam sebuah post tentang penulisan. Keahlian kita untuk meramu, menyerap atau mencuri bagian-bagian cerita, dan memodifikasinya adalah bumbu tepat untuk membuat cerita yang bagus. Maka dimulailah sebuah hal yang baru saya tahu tentang seorang penulis, dia harus banyak membaca buku-buku yang sudah ada terlebih dahulu. Cerita legendaris, epik, pokoknya yang bagus dan berkualitas, (tambahkan sesuai keinginan Anda) harus dibaca, kemudian dibedah dan dari situ dapat belajar bagaimana membuat sebuah untaian cerita yang bagus. Benar-benar bagus, setelah mendapat penyuntingan dan revisi tentunya. Selain itu kerja keras. Menulis bukan sebuah keahlian instan yang dapat diperoleh seperti menengguk sebuah obat atau sebuah alat yang bisa memproses dengan cepat. Selain itu menulis butuh kemauan dan ketekunan dalam melakukannya. Mungkin ini pas sebagai pembuka. Di bagian berikutnya ijinkan saya untuk bisa berbagi hal lainnya mengenai menjadi penulis. Tetap sehat dan membaca ya friends.

Advertisements